Dark Eyes
The Beginning of Evil
Created by Valdo L finz, the twenty-six of august, 2013.
Design images by Wah Ngt.
Suatu saat, aku akan jatuh cinta pada orang lain
selain kau.
Aku akan, untuk pertama kalinya dalam hidupku,
jatuh cinta pada orang selain kau.
Kau telah mengajariku cara bersimpati terhadap
orang lain,
karena itulah aku yakin suatu saat aku akan jatuh
cinta pada orang selain dirimu.
Tapi aku akan selalu mengenang kembali, pertemuan
kita yang sangat menegangkan.
yang telah kau lupakan ini, dengan kerinduan.
Kurasa aku takkan bisa melupakannya.
Seperti apapun masa depan yang menungguku nanti,
Kearah manapun jalan yang kulalui sekarang,
perasaanku terhadapmu tidak akan berubah.
Perasaanku tidak akan hilang.
Tujuh juli, pukul tujuh malam.
“Hosh.. hosh.. hosh...”
“Gawat, aku akan mendapat masalah jika begini terus.” Gumamku.
Malam terasa sangat sunyi..
Di tengah keheningan itu, aku berlari sekencang-kencangnya melewati
sudut jalan.
Hanya suara langkah kakiku yang bisa terdengar dimalam itu.
Hal ini terjadi karena aku tak terlalu memikirkan waktu yang berputar
sangat cepat..
Jika saja aku pulang lebih awal, mungkin perjalananku takkan selarut
ini.
Tak ada satu pun bintang yang bisa terlihat menghiasi angkasa. .
Mungkin semua itu karena cuaca yang berawan pada malam ini.
“Sial!” Teriakku.
Diikuti dengan cuaca yang kurang baik, angin berhembus kencang.
Tiupannya sangat kencang dan terasa sangat berat.
Andai saja aku mengikuti arah angin pada saat
itu.
Namun, heningnya malam dan buruknya cuaca tak membuatku gentar.
Langkahku semakin terdengar sangat kencang setiap kali aku melangkah.
Aku terus berlari.. Meskipun itu membuat nafasku tersegal-segal.
Tak ada sedikit pun kegelisahan dalam langkahku.
Walaupun aku tak begitu pandai berlari, namun sepertinya kecepatanku
saat ini bisa mengimbangi seorang atlit olimpiade yang sedang berlari.
Kejadian itu terus berlansung, sampai seorang wanita menahan
langkahku.
Seorang wanita misterius yang muncul secara tiba-tiba didalam pandanganku.
Wanita itu menghadang langkahku dengan sebuah ancungan pedang panjang
yang berada dalam genggamannya. Dengan tatapan mata yang tajam, tanpa perkataan
atau senyum sedikit pun.
“Ada apa dengan dirinya?” Pikirku.
Namun, ketika melihat sosoknya, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu.
Sesuatu yang sudah pernah kubaca sebelumnya.
Parasnya yang sangat elok, tubuhnya yang sangat indah, mengingatkanku
pada cerita itu. Tidak bukan hanya itu, matanya, bola matanya yang merah juga
menarik perhatianku.
Akan tetapi melihat pandangan matanya yang tajam, membuatku
menghilangkan semua pikiran itu.
Tatapan matanya yang tidak bersahabat.
Tak ada satu pun ekspresi yang bisa kulihat dari wajah cantiknya.
Dengan raut wajah yang dingin, dia terus menatapku.
Namun entah ada apa dengan dirinya, tanpa ragu-ragu wanita itu
berkata,
“Aku akan membunuhmu!”
Selain adegan dalam serial manga, inilah salah satu hal lain yang
membuatku sangat terkejut.
Semua pertanyaan akhirnya terjawab. Tatapan matanya yang tajam,
ekpresinya yang dingin, acungan pedangnya.
Ucapannya sama sekali tidak terdengar seperti gurauan. Dengan tegas
dan jelas dia mengucapkan kata-kata itu.
Kalau boleh, Aku ingin sekali menganggapnya hanya sebuah gurauan. Tetapi sepertinya tidak begitu.
Dia tidak main-main. Keseriusan sangat
terlihat diwajahnya. Lebih dari sekedar ancaman, lebih dari itu...
Kesungguhan.
Ketakutan, bukan... lebih tepatnya kecemasan. Rasa cemas melanda
fikiranku ketika melihat kesungguhannya.
“Mengapa dia ingin membunuhku?” Pikirku.
Sungguh suatu ucapan yang tak masuk akal untuk ukuran seseorang yang
baru pertama kali bertemu. Melihatnya saja tidak pernah, sekarang harus
berurusan dengannya.
Terlebih lagi tindakannya itu, terlalu buruk untuk dilakukan seorang
wanita.
Memang kuakui, acungan pedangnya membuatku bungkam. Melihat tatapannya
saja sudah membuatku menggigil, apalagi jika benar-benar berurusan dengannya.
Dengan langkah yang mantap, dia mulai mendekatiku. Bola matanya yang
merah terus memandang, tanpa berkedip sedikit pun. Seakan siap membunuhku yang
ada didepannya.
“Tunggu sebentar, siapa kau?” Tanyaku kepadanya.
Hanya pertanyan itulah yang sanggup kuucapkan kepadanya di situasi seperti ini.
Sebuah pertanyaan yang kuharap bisa menjelaskan keadaan yang sedang kualami
ini.
Wajahku pucat, tubuhku menggigil tak
henti-hentinya.
Wanita itu terlihat seperti Shinigami yang siap
mencabut nyawaku.
Perlahan, dari bibir lembutnya, wanita itu mulai berbicara. Berbicara dari keadaannya yang menegang. “Aku
adalah seorang iblis pencari jiwa.” Ucapnya, tanpa berpaling sedikit pun
dari tatapannya.
“Iblis?” Tanyaku tidak percaya.
Iblis.. Seorang
iblis wanita.
Penjelasan singkatnya membuat kepalaku berputar-putar. Tentu saja
jawabannya ini membuatku bertanya-tanya.
Selama ini yang kulihat, iblis hanya ada di dalam anime dan manga.
Jadi bagaimana mungkin ada seorang iblis di dunia nyata.
Apa ini sebuah lelucon?
Namun sepertinya dia tidak main-main. Tak ada sedikit pun ekspresi
terlihat dari wajah cantiknya itu. Apalagi ketika dia sedang berbicara atau
mengucapkan sesuatu.
“Mengapa kau ingin membunuhku?”
Tanyaku kepadanya, berharap mendapatkan penjelasan logis dari semua kejadian
ini.
Aku berusaha semaksimal mungkin untuk keluar dari situasi sulit ini.
Mencari tahu, serta memberanikan diri mengajukan pertanyaan demi pertanyaan
kepadanya. Walaupun itu semua sedikit membuatku takut.
Ditengah situasi yang tegang
itu, wajahku mulai berkeringat. Namun,
keringat ini bukanlah keringat yang biasa terlihat pada saat melakukan
olahraga. Melainkan ini adalah keringat dingin.
Keringat dingin mulai membasahi pipiku.
Keringat yang biasa muncul pada saat manusia merasakan ketegangan, kegelisahan
dan…
ketakutan.
Firasat buruk semakin merajam seiring waktu berlalu. Seolah tubuh ini
tahu bahwa bahaya akan datang mengancam pada saat ini.
“Jiwamu adalah jiwa yang
tersesat,” Jawabnya datar. “Aku datang kesini untuk mengambil jiwa yang
tersesat dalam tubuhmu.”
Aku mencoba mencerna semua penjelasannya, namun sungguh.. aku tak mengerti dengan apa yang dibicarakannya.
Seperti itulah.. lebih tepatnya lagi..
Aku tak ingin mengerti.
Akan tetapi, sebelum aku sempat memikirkan hal itu, pedangnya sudah
terayun. Dengan gerakan tangannya yang cepat, dia mengarahkannya.
Ayunan pedangnya terarah,
seolah siap menghabisi lawan yang berada didepannya.
“Uwaaah!” Teriak ku ditengah keadaan itu.
Gerakannya sangat cepat dan bertenaga. Seolah menunjukan
keterlatihannya dalam memainkan pedang.
Tetapi, aku berhasil menghindar
dari serangan pedangnya. Hanya beberapa helai rambut yang menjadi korban
ketajaman pedangnnya.
Nyaris saja. Bila saja terlambat dalam timming itu, kurasa nyawaku sudah melayang.
“Kau hampir membunuhku!” Pekik ku.
Jantungku berdegup sangat kecang. Situasi yang berbahaya ini sangat
membuatku terkejut. Wajahku menjadi pucat pasi. Menunjukan betapa terkejutnya
aku akan tindakannya yang tiba-tiba.
“Tentu saja.” Jawab wanita itu
dingin.
Hal ini terjadi terlalu cepat. Terlalu rumit. Hanya memikirkannya saja
sudah membuat kepalaku terasa ingin menjadi pecah.
“Tunggu sebentar ini pasti salah paham..” Ucapku ditengah situasi yang
berbahaya itu.
Sungguh pada saat ini, aku tak bisa berfikir jernih. Terlebih lagi,
aku tak begitu mengerti maksud ucapan dan alasan wanita ini datang mengincarku.
Andai kata aku melakukan kesalahan yang tak kuingat kepadanya, bukan
berarti dia bisa seenaknya membunuhku bukan?
Tentu semua orang juga berfikir seperti itu. Namun sepertinya hanya
wanita ini yang tak sependapat tentang kata-kata itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu terus melangkah. Melangkah
maju kembali kehadapanku, yang berhasil menghindar dari serangan pertamanya.
Dia memantapkan langkahnya kembali,
bersiap
menyerangku dengan serangan susulannya.
“ Tunggu, mungkin kau salah orang!” Jelasku kepadanya ditengah situasi
yang mendesak itu.
“Tidak ada kesalahan dalam mataku.” Jawabnya dingin.
Kalian mungkin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
Kebetulan, aku pun sedang memikirkan hal yang sama.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Mengapa dia sangat ingin sekali melenyapkanku?”
Ah.. mungkin aku harus memulai dari apa yang
kulakukan pagi tadi.
Tepat ketika hari terakhir festival tanabata di sekolah nakamura,
kehidupan SMA yang baru saja ku mulai, Akika wakatsu,
akan menjadi kebiasaan dari hidupku.
Benar-benar tak ada yang special dalam hidupku.. tapi tidak buruk
juga.
Pagi ini sama seperti hari yang lalu, seperti hari yang lain..
Mula-mula aku merasa terbiasa dengan aktifitas yang membosankan ini.
Tetapi siapa yang mengira kehidupanku yang begitu rapuh bisa berubah
dalam satu hari.
Aku tak pernah membayangkan ini akan terjadi pada diriku..
Dunia berbeda yang akan aku lihat..
Aku tidak pernah berfikir bahwa aku akan mengalami ini.
Apa yang terjadi jika aku sudah pulang lebih awal?
Apa takdirku tetap sama bahkan jika aku berada ditempat lain?
Pada saat itu aku belum menyadari semuanya..
Namun demikian, takdirku berjalan kearah itu tanpa menyadarinya..
Tempat beberapa meter dari dunia jiwa tersesat..
Pukul sembilan pagi.
Pagi itu udara sangat sejuk. Dengan santainya,
aku berjalan menuju sekolah. Kemudian ketika sesampainya diperjalanan, aku
melihat seorang wanita cantik yang sedang termenung menatap langit. Wanita itu
terlihat seperti orang asing dari negara lain.
Aku menatap dan memandangnya.. Mata merahnya yang
penuh dengan kekosongan..
Dia hanya terdiam saat tatapan matanya berpaling
kearahku.. Raut mukanya terlihat sangat sedih dan kesepian..
“Hey wataku, bisa kesini sebentar?” Teriak
seorang teman memanggilku, menghilangkan semua konsentrasiku pada manga yang sedang kubaca.
“Maaf, aku sedang sibuk..” Gubrisku tanpa menoleh sama sekali.
‘WATAKU’
Seperti itu lah teman-teman di sekolah memanggilku. Wataku, adalah
singkatan dari Wakatsu *Otaku. Mereka memanggilku seperti itu sebab tak jarang
mereka melihat hobi dan rutinitasku yang selalu ku isi dengan membaca manga
atau pun menonton anime.
Di sekolah aku tidak begitu mempunyai banyak teman. Itu semua mungkin karena kebiasaanku menjaga jarak dari yang lainnya. Kau tahu, bagi sebagian besar otaku, mengurangi
aktifitas dan hubungan dengan orang lain adalah hal yang paling sering
dilakukan. Tapi aku yakin, tak semua dari kalian akan paham dan mengerti alasan
kami.
Bagiku, jika dibandingkan dengan menghabiskan waktu untuk pergi bersama
teman, lebih baik waktu yang berharga itu kuhabiskan untuk membaca manga atau
menonton anime.
Bahkan karena aku terlalu tergila-gila dengan manga dan anime, terkadang
aku sampai lupa waktu. Seperti saat di rumah, ibuku sering memarahiku saat aku menonton
anime hingga larut malam.
Seperti biasa, sebagai pelajar aku mengisi hari-hariku dengan
pelajaran sekolah yang membosankan.
“Mengapa aku harus melakukan hal yang merepotkan
seperti ini?” Pikirku.
Bagiku belajar adalah suatu hal yang merepotkan. Selain menghabiskan
tenagaku, belajar juga menghabiskan waktu luangku untuk menonton anime dan
membaca manga.
Sampai-sampai karena hal itu, terkadang ditengah kesibukan pelajaran
disekolah, aku selalu mencuri waktu untuk membaca manga.
“Akika-kun, coba baca buku halaman pertama !” Ucap sensei ditengah pelajaran.
“Akika-kun?” Panggilnya.
“Apa yang sedang kamu baca Akika-kun?” Tanya sensei dengan ekpresi iblisnya ketika
ia mendapati keaadaanku sedang membaca manga di kelasnya.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, aku hanya terdiam dan terus membaca
tanpa mengubrisnya.
“Lagi-lagi kamu membaca manga
ditengah pelajaran,” Bentaknya marah. “Sekarang
singkirkan manga itu dan keluar kelas sekarang! Berdiri didepan koridor!”
Seperti itulah keseharian hidupku disekolah...
*Otaku = sebutan untuk mereka yang memilik hobi
dalam bidang komik dan animasi di negara Jepang
Akhirnya waktu istirahat pun tiba. Waktu luang yang sangat ditunggu
oleh semua siswa, setelah belajar penuh selama setengah hari.
Semua pelajar dikelas sibuk akan kegiatannya. Mereka bercanda tawa,
berlari keluar, dan berbincang-bincang dengan sesama lainnya.
Entah mengapa mereka sungguh terlihat senang dengan aktifitas yang
dilakukannya itu.
“Seperti orang bodoh saja..” Pikirku.
Sementara aku hanya terduduk santai sambil membaca manga. Meskipun
terkadang cibiran selalu datang ketika mereka melihat aktifitasku itu.
Kita hidup cuma sekali. Kenapa kita harus
menghabiskan waktu kita untuk hal yang tidak kita sukai.
Walaupun begitu, terkadang aku sering berbincang-bincang dengan teman
dibelakangku ketika sedang bosan membaca manga.
Gadis manis berambut panjang terurai ini namanya Yamada Yuri. Dia
adalah primadona dikelasku.
Yuri sangat terkenal dikalangan para laki-laki. Kecantikannya sudah
lama menjadi perbincangan hangat disetiap sudut sekolah. Bahkan angkatan
diatasnya pun mengetahuinya. Mendengar namanya saja, sudah membuat semua
laki-laki berteriak girang.
Awalnya aku senang sekali bisa duduk tepat berada didepannya. Siapa
coba yang tidak girang, duduk berhadapan dengan gadis cantik seperti dirinya.
Kupikir aku bisa mendapatkan kenangan kelas satu yang sangat indah.
Tapi setelah beberapa lama, seiring semakin aku mengenalnya.. Ternyata
tersembunyi sifat yang mengerikan dibalik parasnya yang indah itu. Kalau diibaratkan mungkin seperti cabai super
pedas yang tersembunyi didalam bulatan kue *dango.
Sifatnya kasar, hobinya mengganggu. Sungguh hobi dan sifat yang sangat
tak masuk akal untuk wanita secantik dirinya. Banyak teman-teman yang dikenal
yuri menjadi korban kekasarannya. Termasuk aku.
“Wataku kamu sudah mengerjakan tugas
yang diberikan sensei kemarin?” Tanyanya dibelakangku.
“Aku belum mengerjakannya sama sekali,” Ucapku
santai.
“Bagaimana kamu bisa sesantai itu?!“ Deliknya.
Aku hanya terdiam tanpa menanggapi perkataannya.
*kue jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, dan biasanya rasanya
manis (something like that)
“Kamu ini bodoh yah !! Di saat orang sedang sibuk mencari jawaban
tugas kamu malah asyik membaca manga,” Gumamnya.
“Yah... Begitulah.” Ujarku.
Jam pelajaran telah usai. Satu lagi hari yang membosankan telah
berakhir. Menyikapi hal itu, teman-teman berlari satu-persatu. Walaupun ada
juga yang berjalan santai.
Semua teman-teman telah beranjak meninggalkan kelas. Sementara aku masih
memandangi setiap gambar dan juga kata-kata yang terlukis didalam genggamanku.
“Hei wataku, ini sudah waktunya pulang.” Ucap yuri menepuk pundakku.
Tak terasa, enam jam telah berlalu semenjak keberangkatanku menuju
sekolah. Benar seperti yang orang dewasa sering katakan, waktu tak akan terasa
pada saat kita melakukan sesuatu yang kita sukai.
“Nanti saja sebentar lagi,” Ujarku
sambil membaca manga. “ Aku sedang menikmati jalan cerita ini.”
“Baiklah kalau begitu,sampai jumpa besok!” Lambai yuri sambil beranjak
meninggalkanku.
Lalu tanpa kusadari, hari yang sudah menjadi sangat larut...
“Akhirnya selesai juga..” Gumamku bahagia.
Tapi ketika tersadar dan melihat jam tangan..
“Huah! Sudah pukul tujuh!“ Teriakku panik.
Aku segera bergegas dan berkemas meninggalkan sekolah. Tak lupa aku
membawa semua manga yang berada didalam Locker ku.
Aku berlari sekencang-kencangnya dalam situasi itu. Bermaksud bergegas
menuju rumah. Sebab ibu akan sangat-sangat marah bila keadaan ini menjadi lebih
larut lagi.
Tapi baru saja beberapa meter meninggalkan sekolah, tiba-tiba dari arah
depanku muncul seorang wanita cantik menghalangi jalanku.
“BERHENTI!” Ucap wanita itu.
Wanita itu berada tepat didepanku menghadang langkahku. Membuatku
tertegun sejenak dan menghentikan langkahku. Seketika, aku mulai memandangnya
dalam-dalam.
Parasnya terlihat sangat cantik untuk seseorang yang pernah kutemui,
selain yuri tentunya. Bukan hanya itu saja, bola matanya yang merah juga
menarik perhatianku. Melihatnya mengingatkanku pada sesuatu.
Tentang sebuah manga yang tadi pagi kubaca.
“Apa ini suatu kebetulan?” Pikirku.
Pada saat itu, andai aku tak melihatnya.
Tetapi ada sedikit keanehan ketika memandangnya. Tatapan matanya tidak
bersahabat. Seperti ada maksud dan tujuan lain yang tidak tergambarkan.
Terlebih lagi tangannya memegang pedang sangat tajam. Membuatku sedikit cemas
dan bertanya-tanya.
Lalu ditengah kebingunganku itu, wanita itu berkata..
“Aku akan membunuhmu!”
Aku sangat terkejut mendengar pernyataannya. Sungguh sebuah perkataan
yang sangat tidak menyenangkan untuk diucapkan. Lalu, setelah ucapannya yang
singkat itu, tangannya mulai mengacungkan pedang yang berada dalam
genggamannya.
Melihat tangannya mengacungkan pedang membuatku bungkam. Entah apa
yang difikirkannya sampai-sampai dia melakukan hal seperti itu. Sungguh lelucon
yang sangat tidak menyenangkan untuk gurauan seseorang yang baru pertama kali
bertemu. Sungguh.
Tetapi sepertinya semua itu bukanlah gurauan. Niat membunuh sangat
terpancar dari raut wajahnya. Perasaan
cemas semakin merajam ketika melihat wajahnya yang seperti itu.
Pada saat melihat keseriusannya, tubuhku tak
henti-hentinya menggigil.
“Mudah-mudahan ini hanya sebuah
lelucon,” Kataku didalam hati.
Hanya itu yang bisa kuharapkan didalam situasi yang aneh ini.
“Tunggu.. tunggu sebentar...” Ucapku
terbata-bata. “Siapa kau? Kenapa kau ingin membunuhku?”
Melihatnya saja sudah membuatku cemas, apalagi
jika benar-benar bertarung dengannya.
Wajahku mulai berkeringat, disusul dengan firasat buruk mulai menekan.
Seolah tau bahwa bahaya akan mengancamku.
“Aku seorang iblis pencari
jiwa.” Ucapnya datar.
“Jiwamu adalah jiwa yang tersesat,” Ungkapnya. “Aku datang kesini
untuk mengambil jiwa yang tersesat dalam tubuhmu.”
“Iblis?!” Ucapku tidak percaya.
“Itu benar.” Ucap charon menegaskan.
Sejenak aku terdiam mendengar perkataannya. Terdiam dari ucapannya
yang tak masuk akal.
“Hahaha...yang
benar saja!” Ucapku disertai dengan sebuah tawa yang menggelegar. “Lelucon macam apa ini!!”
“Percaya atau tidak, keberadaanmu harus segera dimusnahkan.” Jawab wanita
itu dengan ekspresi dinginnya. “Sebelum jiwa itu sepenuhnya menguasai tubuhmu.”
Belum sempat aku berbicara kembali, charon sudah mengayunkan pedangnya
kepadaku. Ayunan pedangnya terarah, seolah siap
memotong tubuhku yang tepat berada didepannya.
“Uwaaah!” Teriak ku.
Untuk seketika, aku berhasil
menghindar dari serangan pedang itu. Hanya beberapa helai rambut yang menjadi
korban ketajaman pedang yang sedang diayunkan kepadaku.
“Kau hampir membunuhku!” Pekik ku seakan terkejut akan tindakannya.
“Tentu saja.” Jawab wanita itu datar.
Tanpa ragu-ragu, wanita itu beranjak kembali mendekatiku. Bersiap menyerangku dengan serangan
susulannya.
“Tunggu sebentar ini pasti salah paham.. mungkin kau salah orang!”
Jelasku kepadanya.
“Tidak ada kesalahan dalam mataku.”
Kemudian serangan susulan dimulai kembali. Sebuah sayatan yang sangat
cepat dan bertenaga. Serangan demi serangan terus dilancarkan kearahku tanpa celah sedikit pun.
Wanita itu menyerangku
seperti seseorang yang sudah profesional dalam bidangnya.
Ayunan pedang bertubi-tubi tetap
dilancarkannya dengan penuh perhitungan serta niat membunuh.
Tapi entah mengapa aku berhasil menghindar dari serangannya.
“Mungkin ini karena latihan menghindar yang
kupelajari saat bermain pedang-pedangan waktu
kecil dulu..” Pikirku.
“Ada untungnya juga..”
Sementara ditengah elakan ayunan pedangnya yang bertubi-tubi.. Perlahan, kesialan
mulai menghinggapiku. Tubuhku terjatuh ketika berhasil menghindar dari sayatan
pedangnya yang ke.. ah, aku sudah berhenti menghitungnya.
Sepertinya tubuhku sudah sampai pada tahap akhir. Menghindar juga juga
ada batasnya. Kelelahan yah, sudah pasti.
Tetapi anehnya, tak sedikit pun terlintas di pikiranku untuk
berlari atau meminta tolong.
Lalu sampailah pada bagian penyelesaian. Penyelesaian yang diinginkan iblis itu terhadapku. Pedangnya menuju tajam kearah leherku.
Dan ditengah Kesialanku itu...
“Tunggu dulu! Tunggu sebentar! Pasti ada cara lain mengatasi ini!!”
Teriak ku was-was.
Aku berharap pada sedikit keberuntungan yang
mulai menghilang.
Pedangnya mengarah sangat cepat. Seperti angin yang bertiup kencang.
Tak terlihat, tetapi terasa. Namun sepertinya perkataanku berhasil menahannya. Wanita itu menghentikan ayunan pedangnnya. Beberapa centi
meter pedang terhenti di leherku. Mendengar teriakanku yang sangat kencang,
membuatnya, dan menghentikan niatnya sejenak.
“Hampir saja!” Pikirku. “Jika dia tidak menghentikan ayunan pedangnya
saat ini,mungkin aku sudah mati.”
Tubuhku membeku menyaksikan adegan yang baru saja terjadi. Jantungku berdegup sangat cepat, diikuti dengan wajah
pucat pasi. Lalu, setelah berhasil menenangkan diri sebentar, aku pun mulai
berkata...
“Mungkin kita bisa menyelesaikan semua ini dengan cara baik-baik tanpa
melukai satu sama lain!” Jelasku kepadanya.
“Misalnya dengan mengambil jiwa yang kamu butuhkan dalam diriku tanpa
membunuhku,” Usulku.
Ia hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun.
Pandangannya tak berpaling sedikit pun dari wajahku.
“Apakah itu mungkin bisa kau lakukan?” Tanyanya dengan tatapan
dinginnya.
Tanpa mengubah sorot matanya, ia terus menatapku.
Wanita itu tak beranjak sedikit pun dari tempatnya.
Dengan keadaan pedangnya yang masih berada beberapa centimeter dileherku.
“Mu..mungkin itu bisa kulakukan!” Jawabku ragu.
Sebenarnya aku ragu dan tidak yakin dengan jawaban yang kuberikan.
Tetapi mau bagaimana lagi. Jika tidak, aku bisa mati sia-sia ditempat ini.
Masih banyak yang ingin aku lakukan. Seperti membaca kelanjutan serial manga yang baru kubeli kemarin misalnya. Sebisa mungkin, aku memikirkan hal itu disituasi sulit ini. Namun
itu suatu alasan yang jelas bukan.
Aku memandangnya dengan penuh harapan. Berharap kata-kataku menjadi
pertimbangannya. Namun tatapannya tidak melunak sedikit pun. Membuatku cukup
menjadi bimbang akan jawabannya.
“Baiklah aku akan memberikanmu satu kesempatan,” Ucapnya kemudian.
“Akhirnya..” Pikirku.
Kemudian ia mulai menyingkirkan pedangnya dari hadapan leherku. Menjauhkannya
dari pandangan mataku.
“Aku akan memberikanmu waktu sampai besok.” Katanya kepadaku. “Aku akan kembali
besok.”
“Bila besok kamu tak berhasil mengeluarkan jiwa yang tersesat dalam tubuhmu, aku akan membunuhmu.” Ucapnya
datar.
“Dosamu adalah kemalasan, ingat itu.” Jelasnya.
Setelah ucapannya yang singkat itu, ia mulai berpaling. Tubuhnya
membelakangiku, beranjak menjauh.
“Tunggu dulu!” Ucapku menahannya.
“Apa maksud perkataanmu itu?”
Tanyaku kepadanya ditengah keberanjakannya itu. “Aku kurang mengerti.”
Wanita itu hanya terdiam tanpa berpaling. Ia tidak
mengubrisku, seakan semua perkataannya sudah lebih dari cukup.
“Bisakah kamu jelaskan lebih detail lagi tentang ucapanmu itu?” Tanyaku
sambil beranjak berdiri.
Namun sebelum aku sempat menahannya, secara tiba-tiba, tepat didepan
mataku, ia menghilang. Menghilang bersama hembusan angin yang bertiup pelan.
Tubuhnya lenyap, seolah kegelapan malam menyatu
pada dirinya.
“Tunggu,apa ini? Dia menghilang?!” Pikirku tidak
percaya.
Aku menatap kosong pemandangan jalan yang ada
didepanku tanpa melihatnya.
“Apa ini cuma mimpi?!”
Pikirku.
Aku menepuk-nepuk pipiku, seakan tak percaya akan
yang telah kulihat.
“Ini cuma fantasy’kan? Bukan realita?” Tanyaku
didalam fikiranku.
Aku terus bertanya-tanya pada diriku..
Berusaha mencari penjelasan logis untuk semua
ini..
Tetapi aku berhasil mengetahuinya..
Akhirnya aku menemukan jawabannya.
“Tidak, ini bukan mimpi.” Pikirku.
Aku mengambil beberapa helai rambut yang berserakan tanah.
“Ini
kenyataan.”












Tidak ada komentar:
Posting Komentar